Minggu, 20 Juli 2014

Mengapa Syiah dinilai Sesat?


Syiah adalah suatu sekte / aliran / agama yang mengklaim agama Islam, namun memiliki perbedaan yang jauh dengan ajaran Islam yang banyak diyakini dan dipraktekkan di seluruh dunia. Syiah sudah ada sejak awal sejarah Islam, saat ini mereka menguasai Iran, Iraq, Suriah dan sedang berusaha mendominasi di negara-negara muslim lainnya termasuk Indonesia. Salah satu tokoh mereka di Indonesia adalah Jalaluddin Rakhmat, seorang anggota DPR-RI dari PDI-P periode ini. Mengapa mereka dinilai sesat oleh para Ulama Islam sejak dulu?

Rafidhah adalah salah satu sekte Syiah, dan memiliki banyak nama diantaranya al-Itsna ‘Asyariyah, Ja’fariyyah, Imamiyyah dan nama yang lainnya, akan tetapi hakikatnya sama. Apabila pada zaman ini disebutkan kata Syiah secara mutlak, maka tidak lain yang dimaksudkan adalah Rafidhah.

Syiah Rafidhah atau yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan Syiah Imamiyah memiliki keyakinan-keyakinan yang sangat bertentangan dengan Islam yang mereka jadikan sebagai dasar agama mereka. Berikut ini di antara keyakinan mereka yang salah dan tidak sesuai dengan fakta, akal sehat dan hati nurani yang luhur:

1. Mereka meyakini bahwa Al-Qur`ân telah banyak berkurang dan mengalami banyak perubahan. Bahkan menurut mereka, al-Qur`ân hanya sepertiga dari al-Qur`ân yang dipegang ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu yang mereka sebut dengan Mushaf Fâthimah yang turun temurun dibawa oleh para imam dan sekarang dibawa oleh Imam al-Muntazhar (imam yang mereka tunggu kedatangannya)?!!

2. Mereka meyakini bahwa Al-Qur’ân tidak bisa dipahami kecuali dengan penafsiran para imam dua belas.

3. Mereka melakukan ta’thîl (meniadakan) nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla sehingga dalam konteks ini mereka termasuk kaum Jahmiyyah.

5. Mereka menafikan takdir sehingga mereka termasuk golongan Qadariyyah (kelompok yang tidak mengimani takdir).

6. Mereka meyakini Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada ‘Ali untuk menggantikannya sebagai khalifah sepeninggalnya.

7. Mereka menganggap kafir terhadap para Sahabat Nabi dan keyakinan bahwa para Sahabat Nabi telah murtad kecuali hanya beberapa orang saja dari mereka.

8. Mereka meyakini bahwa para imam dua belas mendapatkan wahyu dari Allâh Azza wa Jalla , sehingga kaum Syiah mendefinisikan Sunnah dengan istilah segala yang berasal dari orang ma’shûm (yang terjaga dari dosa dan kesalahan) baik berupa perkataan, perbuatan, ataupun taqrîr (pembenaran). Menurut mereka, hanya ‘Ali bin Abi Thâlib yang menguasai Sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

9. Mereka meyakini bahwa  Imâmah (kepemimpinan) kaum Muslimin hanya dipegang oleh Imam Dua Belas. Mereka mencela dan tidak mengakui khilafah Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan ‘Umar Radhiyallahu anhu

Tentang keyakinan ini, Imam Syafi’i berkata,“Barangsiapa tidak mengakui khilafah (kepemimpinan) Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan ‘Umar Radhiyallahu anhu , dia adalah seorang rafidhi”.

10. Mereka meyakini bahwa para imam memiliki sifat ma’shûm, terjaga dari kesalahan mereka, tidak pernah lupa dan selalu mengetahui apa yang terjadi dan yang akan terjadi.

11. Mereka meyakini bahwa para imam tidak akan mati kecuali dengan keinginan mereka.

12. Mereka meyakini bahwa para imam akan bangkit dari kubur apabila mereka menghendaki, untuk menjumpai sebagian manusia. Keyakinan ini mereka sebut dengan akidah zhuhûr

13. Mereka meyakini bahwa para imam dan wali lebih mulia daripada para nabi dan rasul.

14. Mereka meyakini bahwa para imam akan kembali ke dunia setelah kematian mereka demikian pula Ahlussunnah. Mereka kemudian akan membalas para Sahabat, menyalib Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan ‘Umar Radhiyallahu anhu dan menegakkan hukuman zina terhadap ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma – semoga Allâh Azza wa Jalla menghancurkan mereka-. Keyakinan ini mereka sebut dengan akidah ar-raj’ah

16. Mereka meyakini keyakinan bada’ yaitu terkuaknya sesuatu bagi Allâh Azza wa Jalla setelah sebelumnya tersembunyi sehingga menyebabkan Allâh Azza wa Jalla menarik perkataan yang telah difirmankan atau perbuatan yang dilakukan. Maha suci Allâh Azza wa Jalla atas apa yang mereka katakan

17. Mereka berkeyakinan orang-orang di luar mereka adalah kafir, sama sekali tidak berhak untuk masuk surga.

18. Mereka berkeyakinan bahwa seluruh kebaikan yang dilakukan oleh Ahlussunah akan diberikan untuk Syiah dan dosa-dosa Syiah akan dibebankan kepada Ahlussunnah. Ini yang mereka sebut dengan istilah akidah ath-thînah

19. Mereka meyakini Kewajiban melakukan taqiyah, yaitu seorang penganut agama Syiah berkata dengan perkataan yang berbeda dengan apa yang dia yakini, atau menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada pada hatinya. Keyakinan taqiyah ini merupakan satu kewajiban bagi para penganut Syiah. Oleh karena itu, penganut Syiah mengerjakan shalat di belakang Ahlussunnah dalam rangka taqiyah (melindungi diri) dan pujian-pujian para imam mereka terhadap para Sahabat dilakukan dalam rangka menjalankan taqiyah.

20. Mereka meyakini bahwa Imam yang ke dua belas, Muhammad bin Hasan al-’Asykari telah memasuki salah satu gua di daerah Samarra tahun 260 H pada saat masih kecil. Ia telah menjadi seorang imam sejak kematian ayahnya sampai hari ini. Padahal fakta menyatakan bahwa Hasan al-Askari meninggal dalam keadaan mandul, tidak memiliki anak.

21. Mereka meyakini halalnya darah dan kehormatan Ahlussunnah. Menurut mereka, boleh menggunjing, mencela bahkan melaknat Ahlussunnah.

22. Mereka meyakini dan menghalalkan nikah mut’ah (kawin kontrak). Bahkan menurut mereka nikah mut’ah lebih utama daripada menjalankan shalat, puasa, dan haji.

Demikian sebagian dari keyakinan Syiah yang berbahaya. Di antara mereka ada kaum awam yang tidak mengetahui kerusakan Syiah, maka semoga kita dapat berusaha menjelaskan kepada mereka dan mendoakan mereka agar kembali kepada kebenaran. Semoga info ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan memperingatkan akan bahaya gerakan Syiah.

Sumber: http://koepas.org/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar