Minggu, 21 Februari 2016

Nasionalisasi Aramco oleh Arab Saudi

Aramco (Saudi Aramco) adalah perusahaan minyak milik negara Arab Saudi. Situs forbes.com pada Maret 2015 menyebutkan bahwa Aramco merupakan perusahaan energi terbesar di dunia. Aramco mampu menghasilkan minyak sekitar 12 juta boepd (barrels of oil equivalent per day/barel setara minyak per hari). Aramco memiliki serta mengelola semua tambang minyak dan gas yang berada di Arab Saudi.

Arab Saudi dulu merupakan kerajaan miskin. Sebagian penduduknya adalah masyarakat Badui yang hidup nomaden. Sebagian lagi menjalankan pertanian yang hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Pendapatan kerajaan terutama melalui perputaran uang yang terjadi saat ibadah haji. Namun keadaan berubah saat minyak ditemukan di wilayah timur Arab Saudi (pesisir Teluk Persia) pada 1938.

Sejak 1922, Inggris sudah mencari sumber minyak di Teluk Persia. Pada 1927, Amerika Serikat (AS) mulai terlibat dalam pencarian tersebut. Diantara perusahaan AS yang ikut mencari sumber minyak di Teluk Persia adalah Standard Oil of California (Socal). Socal saat ini telah berganti nama menjadi Chevron. Socal merupakan salah satu perusahaan pecahan dari Standard Oil. Standard Oil sendiri didirikan oleh John D. Rockefeller pada 1870 di Ohio.

Pada masanya, Standard Oil merupakan perusahaan minyak terbesar di dunia dengan jejaring bisnis hingga Tiongkok dan Timur Tengah. Standard Oil menguasai bisnis minyak dari hulu sampai hilir, mulai dari penambangan, pengiriman, penyulingan, sampai dengan penjualan. Pada 1911, Mahkamah Agung AS menyatakan bahwa Standard Oil melakukan monopoli yang melanggar hukum. Standard Oil kemudian dipecah menjadi beberapa perusahaan, diantara perusahaan turunan Standard Oil saat ini adalah ExxonMobil dan Chevron.

Pada 1933, Arab Saudi memberi izin kepada Socal untuk mencari sumber minyak di wilayah timur kerajaan. Socal kemudian mendirikan perusahaan California Arabian Standard Oil Company (Casoc) untuk menindaklanjuti izin tersebut. Pada 1938, Casoc berhasil menemukan sumber minyak di daerah Dhahran. Penemuan tersebut memberikan perubahan besar bagi perekonomian Arab Saudi. Pada 1939 pecah Perang Dunia II, AS dan sekutunya banyak membeli minyak dari Arab Saudi.

Pada 1944, untuk lebih menonjolkan nama negara AS, kata California dalam Casoc diganti menjadi American. Sehingga Casoc berganti nama menjadi Arabian American Oil Company (Aramco). Pada 1950, raja Arab Saudi (Abdul Aziz) meminta pembagian laba 50/50 atau Aramco akan dinasionalisasi. Aramco kemudian menyetujui permintaan tersebut. Antara 1939 dan 1953, pendapatan minyak dari Arab Saudi meningkat dari 7 juta menjadi lebih dari 200 juta dolar AS.


Kenaikan harga minyak 1965 – 1974 (www.resilience.org)
Pada 1973, AS mendukung Israel dalam Perang Yom Kippur. Raja Arab Saudi (Faisal bin Abdul Aziz al-Saud) kemudian memimpin negara-negara Arab untuk melakukan embargo minyak terhadap AS dan beberapa negara pendukung Israel. Raja Faisal juga mengambil alih 25% saham Aramco. Pada 1974, raja Faisal kembali meningkatkan kepemilikan saham Arab Saudi di Aramco menjadi 60%. Namun pada 1975, raja Faisal dibunuh oleh kerabatnya (Faisal bin Musaid) yang baru pulang dari AS.
Majalah Time dalam tulisan berjudul “Saudi Arabia: The Death of a Desert Monarch” menyebutkan bahwa Faisal bin Musaid menunjukkan gejala sakit jiwa. Faisal bin Musaid juga pernah terlibat dengan obat terlarang di AS. Kedua ciri tersebut memiliki kesamaan dengan orang-orang yang menjadi bahan percobaan Project MKUltra. Mengenai Project MKUltra, lihat kembali Teori Konspirasi dan Operasi Intelijen terhadap Gerakan Islam.
Pada 1980, pemerintahan raja Khalid membeli sisa saham Aramco sehingga seluruh saham Aramco dimiliki oleh Kerajaan Arab Saudi. Namun mitra-mitra luar negeri Aramco masih mengelola ladang minyak Arab Saudi. Mitra Aramco antara lain adalah Exxon, Socal, Texaco, dan Mobil. Rockefeller memiliki saham di empat perusahaan tersebut. Pada 1988, di masa pemerintahan raja Fahd, Aramco berganti nama menjadi Saudi Arabian Oil Company (Saudi Aramco). Saudi Aramco pun mengambil alih pengelolaan ladang minyak dan gas Arab Saudi dari mitra-mitra Aramco.
Nasionalisasi Bukan Tujuan Akhir

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” [QS. Al A’raaf: 96]

Penemuan minyak telah mengubah perekonomian Arab Saudi. Kerajaan yang miskin dan terbelakang tersebut telah berubah menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.


Data pertumbuhan ekonomi Saudi
(“The Political Economy of Saudi Arabia” by Tim Niblock, Monica Malik)

Namun perusahaan minyak asing adalah pemilik sejati dari kekuatan ekonomi tersebut. Meskipun sumber minyak berada di Saudi, tetapi pengambilan keputusan berada di New York, Dallas, dan San Francisco. Pekerja Saudi pun menerima upah yang jauh lebih rendah daripada pekerja asing. Perusahaan minyak asing juga tidak terlalu peduli pada masyarakat dan lingkungan di sekitar penambangan minyak. Pola yang mereka lakukan adalah mencari sumber minyak, mengisapnya secepat dan semurah mungkin, lalu meninggalkannya untuk mencari sumber minyak baru. Sehingga sumur-sumur minyak kemudian dibiarkan merusak lingkungan.

Nasionalisasi Aramco telah mengembalikan penduduk Saudi sebagai pemilik sah kekuatan ekonomi tersebut. Mereka mulai menjaga lingkungan serta memberdayakan masyarakat. Pemerintah pun banyak membangun sekolah-sekolah. Pada 1975, terdapat 3,028 sekolah dasar, 649 sekolah menengah, dan 182 sekolah lanjutan. Pada 1980, jumlah tersebut meningkat menjadi 5,373 sekolah dasar, 1,377 sekolah menengah, dan 456 sekolah lanjutan. Pemerintah Saudi juga membangun pusat industri di Jubail dan Yanbu pada 1975.
Perusahaan asing sangat takut dengan gagasan nasionalisasi. Mereka akan melakukan apa saja untuk mencegah nasionalisasi. Namun negara tempat sumber daya ekonomi tersebut berada, memiliki hak untuk melakukan nasionalisasi, diantaranya melalui pembelian saham. Nasionalisasi akan memberi kesempatan bagi pemerintah untuk memperoleh alih teknologi, mengganti pekerja asing dengan penduduk setempat, serta memberi pekerjaan turunan bagi pengusaha dalam negeri.

Minyak tidak hanya membuat Saudi makmur, namun juga menjadikan negara tersebut sangat bergantung padanya. CIA World Fact Book menyebutkan bahwa sekitar 80% anggaran pendapatan Saudi serta 90% pendapatan ekspornya berasal dari minyak. Hal ini membuat Saudi sangat rentan terhadap perubahan harga minyak. Karena itu nasionalisasi bukanlah akhir dari perjuangan kemerdekaan ekonomi. Nasionalisasi merupakan modal untuk mengembangkan sumber daya ekonomi lainnya. Sehingga kemerdekaan ekonomi dapat tercapai melalui berbagai pilar ekonomi yang memenuhi kebutuhan dasar, dapat diperbarui, dan memberdayakan banyak orang.

Pakar: Wiji Hartono
Sumber:
http://duniatimteng.com/sejarah-arab-saudi-dan-nasionalisasi-aramco/