Minggu, 21 Februari 2016

Sejarah Berdirinya Kerajaan Islam Arab Saudi



Pada abad ke-16 M, Kekhalifahan Turki Utsmani menguasai wilayah pesisir semenanjung Arab. Diantaranya adalah Hejaz, Asir, dan Yaman di pesisir Laut Merah, serta al-Ahsa di Teluk Persia. Utsmani juga menyatakan kekuasaannya terhadap wilayah pedalaman semenanjung Arab. Namun Utsmani tidak mengelola secara langsung (tidak menempatkan gubernur) karena wilayah pedalaman tersebut dianggap tidak memiliki nilai ekonomi yang berarti.

Kerajaan Arab Saudi bermula dari kota Diriyah di wilayah Nejed, pedalaman semenanjung Arab. Pemimpin Diriyah, Muhammad bin Saud (wafat 1765 M), menerima dakwah pemurnian Islam dari Muhammad bin Abdul Wahab (1703 – 1792 M) sekitar 1744. Mengenai dakwah Muhammad bin Abdul Wahab terhadap bid’ah di Utsmani, lihat kembali Bid’ah dan Kemunduran Turki Utsmani. Keluarga Saud kemudian memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Diriyah.

Sekitar 1801, Kerajaan Diriyah menduduki Karbala (Irak) dan menghancurkan setiap bangunan di atas kuburan. Sekitar 1805, mereka menguasai Hejaz (Mekah dan Madinah). Sultan Utsmani (Mustafa IV) kemudian memerintahkan gubernur Mesir (Muhammad Ali Pasha) untuk merebut kembali Hejaz. Kerajaan Diriyah akhirnya berhasil dikalahkan pada 1818. Namun sisa Keluarga Saud berhasil menyelamatkan diri dan dilindungi oleh suku-suku Bani Tamim.

Pada 1824, Turki bin Abdullah memimpin Keluarga Saud mengalahkan pasukan Mesir di Riyadh. Keluarga Saud kemudian mendirikan Emirat Nejed. Serangan pasukan Mesir serta perselisihan di dalam Keluarga Saud membuat kekuasaan Emirat Nejed hanya berkisar di pedalaman tengah dan timur semenanjung Arab. Perselisihan di dalam Keluarga Saud juga membuat Emirat Nejed berhasil dikalahkan Emirat Jabal Shammar pada 1891. Emirat Jabal Shammar dipimpin Keluarga Rashidi dengan ibukota di Ha’il (utara Nejed). Sisa Keluarga Saud kemudian mengungsi ke Kuwait. Kuwait juga bermusuhan dengan Emirat Jabal Shammar.

Pada 1902, dengan bantuan Amir Kuwait (Mubarak al-Sabah), Abdul Aziz memimpin Keluarga Saud merebut kembali Riyadh. Keluarga Saud kemudian kembali memperluas wilayah kekuasaan. Pada 1913, kelompok Ikhwan (bukan Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hasan al-Bana) bergabung dengan Keluarga Saud. Ikhwan berasal dari suku-suku Badui (Arab nomaden) yang telah menerima dakwah pemurnian Islam dari penerus Muhammad bin Abdul Wahab. Ikhwan menjadi sebab keberhasilan Keluarga Saud memperluas wilayah kekuasaan.

Pada 1914 meletuslah Perang Dunia I. Beberapa Kerajaan Arab, seperti Imārāt as-Sāhal al-Matṣhālaḥ (kemudian menjadi Uni Emirat Arab), Qatar, dan Kuwait, berada di pihak Inggris yang memerangi Utsmani. Inggris khawatir Keluarga Saud akan mengganggu Kerajaan-Kerajaan Arab tersebut, sehingga Inggris melakukan Perjanjian Darin dengan Keluarga Saud pada 1915. Perjanjian tersebut menyepakati untuk tidak melanggar perbatasan wilayah di antara masing-masing pihak.



Peta politik Arab 1914 (www.slidego.com)


Inggris juga berhasil membujuk pemimpin Utsmani di Mekah, Syarif Hussein bin Ali al-Hasyimi, untuk memberontak terhadap Utsmani. Dalam surat menyurat antara Syarif Hussein dengan Sir Henry McMahon, Inggris berjanji akan memberikan bekas wilayah Utsmani yang terbentang dari perbatasan timur Mesir sampai perbatasan barat Iran. Syarif Hussein kemudian memimpin Revolusi Arab pada 1916 – 1918. Syarif Hussein dibantu pasukan Inggris (diantaranya kapten T. E. Lawrence) dan Perancis, sementara Utsmani dibantu Emirat Jabal Shammar. Revolusi Arab menyebabkan Utsmani kehilangan wilayah di selatan semenanjung Anatolia.

Namun Inggris dan Perancis mengkhianati Syarif Hussein. Perancis mengambil alih Suriah dan Lebanon, sementara Inggris menguasai Palestina. Syarif Hussein hanya berkuasa di Hejaz. Sedangkan anaknya, Abdullah dan Faisal, masing-masing menjadi penguasa di Yordania dan Irak. Syarif Hussein pun masih harus menghadapi Keluarga Saud yang sedang memperluas kekuasaan ke arah barat. Namun Inggris membantu Syarif Hussein sehingga terjadi gencatan senjata pada 1919. Keluarga Saud kemudian mengalihkan arah penaklukkan ke sisa-sisa wilayah Emirat Jabal Shammar.

Setelah Kekhalifahan Turki Utsmani runtuh pada Maret 1924, Syarif Hussein kemudian menyatakan dirinya sebagai khalifah. Namun pernyataan tersebut tidak mendapat dukungan kelompok-kelompok dalam umat Islam. Inggris pun tidak mendukung Syarif Hussein. Keluarga Saud mengetahui bahwa Syarif Hussein tidak lagi didukung Inggris, sehingga mereka kembali melancarkan serangan ke Hejaz. Kekuasaan Syarif Hussein di Hejaz akhirnya jatuh ke tangan Keluarga Saud pada 1925.

Inggris khawatir Keluarga Saud akan terus memperluas wilayah. Inggris lalu melakukan Perjanjian Jeddah dengan Keluarga Saud pada 1927. Dalam perjanjian tersebut Inggris mengakui kekuasaan Keluarga Saud atas Hejaz, tetapi Keluarga Saud dilarang menguasai Kerajaan-Kerajaan Arab yang berada di bawah perlindungan Inggris. Namun kelompok Ikhwan menolak perjanjian tersebut sehingga mereka memberontak terhadap Keluarga Saud. Dengan bantuan Inggris, Keluarga Saud berhasil mengalahkan pemberontakan Ikhwan pada 1930. Pada 1932, Keluarga Saud menyatakan berdirinya Kerajaan Arab Saudi.

Sumber:

http://duniatimteng.com/sejarah-arab-saudi-dan-nasionalisasi-aramco/